Senin, 21 Januari 2013

Artikel Populer Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar



PUISI PENERIMAAN

            Melihat perkembangan zaman yang serba modern ini bila kita membahas mengenai puisi terlihat seperti hal yang aneh untuk dibicarakan. Padahal puisi itu sendiri mempunyai cirri khas yang unik, karena didalam puisi tersebut mempunyai banyak seni untuk diperlihatkan. Dari tema, amanat, nada, suasana, ritme, rima, diksi, gaya bahasa, dan sampai tipografi puisi inilah yang menjadikan puisi adalah sebuah karya sastra yang patut dihargai dan dipertahankan. Bila kita melihat ke masa lampau di Indonesia banyak melahirkan penyair-penyair puisi yang hebat. Pasti tentunya kita mengenal penyair seperti Chairil Anwar, Taufik Ismail, W.S Rendra, Kirjomulyo, Darmanto Yatman, Sapardi Djoko Damono, dan masih banyak lainnya. Puisi di Indonesia seiring perkembangan zaman mengalami perkembangan, yaitu mulai dari angkatan balai pustaka, hingga puisi jaman sekarang.
            Berbicara mengenai penyair puisi yang terkenal akan terlintas dipikiran kita sosok Cahiril Anwar. Chairil Anwar adalah seorang penyair puisi legendaris yang dikenal juga sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul “Aku”). Cahiril Anwar telah menciptakan karya sastra puisi sebanyak 70 puisi dan menulis karya sastra lainnya sebanyak 69 karya sastra. Chairil Anwar juga pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Sosok Chairil Anwar dengan prestasi yang begitu luar biasa dalam menciptakan puisi kini hanya dapat dinikmati karya puisi-puisinya saja, sebab sosok Chairil Anwar sudah meninggal sejak tahun 1949 karena sakit TBC yang dideritanya.
            Banyak masyarakat biasa maupun dari kalangan pencinta sastra tahu betul puisi karya Chairil Anwar yang berjudul AKU, tetapi dalam kenyataannya Chairil Anwar banyak menciptakan karya sastra puisi yang begitu unik dan menarik untuk dipahami lebih dalam lagi. Chairil Anwar banyak sekali menciptakan puisi-puisi romantis dengan jari jemarinya. Salah satu puisi romantis miliknya yaitu puisi yang berjudul Penerimaan. Puisi Chairil Anwar yang berjudul Penerimaan sangat menarik untuk dipahami lebih dalam, dari arti yang tersirat dalam puisi tersebut sampai pada pesan yang ingin disampaikan oleh sang penyair, Chairil Anwar. Bila diteliti lebih dalam makna puisi Chairil Anwar yang berjudul Penerimaan menggambarkan bahwa tokoh aku dalam puisi tersebut memberikan kesempatan untuk tokoh kau dalam puisi tersebut kembali lagi bersama tokoh aku.
            Biasanya tokoh aku yang digambarkan dalam puisi adalah sosok dari sang penyair, dalam puisi penerimaan tentunya Chairil Anwar, tetapi dalam puisi romantis milik Chairil Anwar ini sangatlah berbeda. Tokoh aku dalam puisi yang biasanya diperankan oleh sang penyair pada puisi Penerimaan adalah istri Chairil Anwar sang penyair, yaitu Hapsah. Puisi ini diciptakan oleh Chairil Anwar ketika beliau sedang menderita sakit namun sang istri masih setia merawatnya. Goresan jari jemari dan perasaan Chairil Anwar dalam puisi ini mengutarakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang istri, Hapsah.
Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

            Hapsah yang berperan sebagai tokoh aku dan sang penyair Chairil Anwar yang berperan sebagai tokoh kau dalam puisi tersebut mengalami pertikaian yang rumit. Hapsah yang diperankan dalam tokoh aku menggambarkan sosok wanita yang sakit hati karena sudah dikhianati oleh pasangannya dengan pihak ketiga dan tetap setia menunggu pasangannya untuk kembali bersama lagi, yaitu tokoh kau. Namun karena ketulusan cintanya terhadap pasangannya, tokoh aku yang diperankan oleh Hapsah akan membuka hatinya untuk pasangannya dengan sepenuh hati bila pasangannya ingin kembali lagi dalam kehidupan Hapsah. Ini dibuktikan dalam puisi tersebut yang berbunyi Kalau kau mau kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati.
             Hapsah masih setia sendiri menunggu sang suami pulang ke dalam pelukannya, walaupun Hapsah tahu bahwa sang suami bukan seutuhnya miliknya lagi karena telah terbagi oleh wanita lain, tetapi Hapsah masih menerima sang suami dengan sepenuh hatinya, dengan keikhlasan hatinya, dan dengan ketulusan hatinya. Hapsah yang senantiasa menunggu sang suami kembali, memberikan harapan pada sang suami untuk tidak usah malu dan harus mau menemui Hapsah untuk memintanya kembali pada dirinya. Hapsah juga meminta kepada sang suami untuk tidak usah takut memintanya kembali. Ini dibuktikan dalam puisi tersebut yang berbunyi Kutahu kau bukan yang dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani.
            Tokoh aku yang diperankan oleh Hapsah membuka pintu harapan bagi sang tokoh kau yaitu Chairil Anwar untuk kembali dan memaafkan sang suami Chairil Anwar yang sudah mengkhianatinya. Hapsah juga meminta kepada Chairil Anwar jangan lagi mengkhianatinya, menduakan cintanya dengan wanita lain, karena sesungguhnya Hapsah tak ingin berbagi dengan wanita lain. Bahkan dengan cermin pun Hapsah tidak ingin berbagi suami. Ini dibuktikan dalam puisi tersebut di bait ke-5 sampai bait terakhir, yaitu berbunyi Kalau kau mau kuterima kembali Untukku sendiri tapi Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
            Seperti itulah kisah yang tersirat dalam puisi yang berjudul Penerimaan karya Chairil Anwar. Sangat romantis, penuh dengan suka duka, pengorbanan yang sangat tinggi, kesetiaan yang sangat diperjuangkan, dan ketulusan seseorang yang mencintai pasangannya dengan apanya.

 



By : Priscilla Putri Elizabeth

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar